Articles worth reading

Umum

Cegah, Obati, Lawan Diabetes

Cegah, Obati, Lawan Diabetes

person access_time18-11-2016

(bisnistoday)-Diabetes telah menjadi masalah kesehatan dunia dan setiap tahunnya terus meningkat. Tahun lalu, terdapat 415juta orang dewasa mengidap diabetes. Diabetes adalah penyakit metabolisme yang timbul akibat peningkatan kadar glukosa darah diatas normal yang juga merupakan penyebab utama terjadi penyakit kardiovaskular, kebutaan, gagal ginjal dan amputasi anggota tubuh bagian bawah. Dalam rangka memperingati Hari Diabetes Sedunia 2016 yang bertema Eyes on Diabetes, P2PTM Kemenkes RI, pada Kamis (17/11/2016) menggelar Media Workshop Cegah, Obati, Lawan Diabetes, di Kantor Direktorat PPTM Kemenkes RI (Jl. Percetakan Negara – Depan Rutan Salemba) Gedung D, Lt. 4 JakPus. Media Workshop ini menghadirkan narasumber dr. Lily S. Sulistyowati, MM (Direktur Pencegahan & Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan RI), – Prof. DR. dr. Achmad Rudijanto, Sp.PD-KEMD – Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. DR. dr. Agung Pranoto, Sp.PD-KEMD – Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA). Worshop ini banyak mengemuka soal Diabetes. Adalah penyakit metabolisme yang timbul akibat peningkatan kadar glukosa darah di atas nilai normal. Diabetes menjadi dua jenis, yaitu diabetes tipe I dan diabetes tipe II. Diabetes tipe I disebabkan tubuh berhenti memproduksi insulin karena perusakan sel pankreas. Kasus ini biasanya ditemukan pada anak-anak. Sementara itu diabetes tipe II terjadi akibat pankreas menghasilkan jumlah insulin yang tidak memadai. Diabetes tipe II merupakan bentuk lebih umum dari diabetes, yaitu sekitar 90% kasus. Kasus ini biasanya terjadi pada orang dewasa, namun beberapa tahun terakhir juga ditemukan pada anak-anak. Data Sample Registration Survey (SRS) 2014 menunjukkan diabetes merupakan penyebab kematian terbesar nomor 3 di Indonesia dengan persentase sebesar 6,7%, setelah stroke (21,1%), dan penyakit jantung koroner (12,9%). Pada 2015, jumlah penyandang diabetes di Indonesia diestimasikan sebanyak 10 juta jiwa. Angka ini menempati peringkat ke tujuh di dunia setelah China, India, Amerika Serikat, Brazil, Rusia, dan Meksiko. Data ini diperkuat dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, 2010, dan 2013 yang menyebutkan prevalensi orang dengan diabetes di Indonesia cenderung meningkat, yaitu 5,7% (2007) menjadi 6,9% (2013). Setidaknya 415 juta orang dewasa di dunia menderita diabetes pada 2015, dimana sebagian besar kasus merupakan diabetes tipe II. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah hingga 642 juta atau sekitar 1 dari 10 orang dewasa mengidap diabetes pada 2040. Meski begitu, dalam beberapa tahun terakhir kejadian diabetes tipe II telah meningkat secara dramatis di kalangan anak-anak dan remaja. Hal ini berkaitan erat dengan anak-anak yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas. Umumnya diabetes tipe II pada anak-anak dan remaja disebabkan oleh pola diet tidak seimbang dan kurangnya aktivitas fisik. Hal ini didukung dengan kemajuan teknologi serta tersedianya berbagai fasilitas yang menjadikan anak malas bergerak. Satu dari dua orang hidup dengan diabetes tipe II untuk waktu yang cukup lama dan sama sekali tidak menyadari kondisi kesehatannya tengah terganggu. Diabetes tipe II memiliki gejala yang begitu ringan, sehingga terabaikan oleh penderita, namun diam-diam merusak fungsi berbagai organ tubuh. Pada saat penyakit ini terdiagnosis, berbagai komplikasi serius kemungkinan sudah timbul seperti penyakit kardiovaskular, kebutaan, gagal ginjal, dan amputasi anggota tubuh bagian bawah. Setiap tahunnya pada tanggal 14 November diperingati sebagai Hari Diabetes Sedunia. Di tahun 2016, Hari Diabetes Sedunia mengangkat tema “Eyes on Diabetes” yang bertujuan mempromosikan pentingnya upaya skrining untuk memastikan diagnosis awal dan inisiasi pengobatan diabetes tipe II. Semakin cepat kasus diabetes tipe II terdeteksi, maka pengobatan dapat segera dilakukan sehingga dapat menghindari berbagai komplikasi yang membahayakan serta biaya perawatan yang mahal. Pelaksanaan skrining diabetes tipe II merupakan faktor penting dalam memodifikasi faktor risiko dan mengurangi risiko terjadinya komplikasi, kecacatan substansial, serta kematian dini (kematian pada usia < 70 tahun). Skrining diabetes tipe II dapat dilakukan di rumah sakit, klinik, laboratorium dan Posbindu PTM yang berada di bawah pengawasan puskesmas. Diabetes adalah salah satu penyakit yang harus harus diwaspadai, karena dapat mengurangi kualitas hidup bahkan menyebabkan kematian. Berikut adalah faktor-faktor risiko yang dapat memicu timbulnya penyakit diabetes: (a) Riwayat keluarga. Jika seseorang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan diabetes tipe II maka peluangnya untuk mengidap diabetes tipe II menjadi lebih besar. (b) Usia. Risiko diabetes tipe II meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah berumur 40 tahun. Hal ini berhubungan dengan aktifitas yang menurun serta kehilangan massa otot dan berat badan. (c).Ras. Orang-orang dari latar belakang ras tertentu ditemukan memiliki risiko lebih tinggi terhadap diabetes. (d). Kegemukan dan obesitas. Peningkatan prevalensi berat badan berlebih dan obesitas selalu berbanding lurus dengan prevalensi diabetes. Semakin banyak jaringan lemak yang dimiliki seseorang, maka semakin besar pula resistensi sel terhadap insulin. (e)Aktifitas fisik yang kurang memadai. (f).Diet tidak sehat seperti mengonsumsi makanan dan minuman kaya kalori, lemak jenuh dan gula, serta rendah serat. (g).Memiliki tekanan darah tinggi atau tingkat lipid yang tinggi. (h). Diabetes gestational yaitu perempuan yang mengalami diabetes selama kehamilan memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe II. dr. Lily S. Sulistyowati, mengatakan, 70% kasus diabetes tipe II dapat dicegah atau ditunda dengan menerapkan gaya hidup yang lebih sehat. Angka ini setara dengan menyelamatkan 160 juta kasus diabetes tipe II di tahun 2040. Pencegahan dan pengendalian diabetes tipe II dapat dilakukan dengan menjalankan metode CERDIK, yaitu: (a).Cek kesehatan secara berkala, dalam hal ini melakukan tes glukosa darah dan kadar HbA1c secara teratur. (b). Enyahkan asap rokok dengan menghindari pengunaan tembakau (rokok atau tembakau kunyah). (c).Rajin aktifitas fisik yaitu dengan melakukan latihan fisik secara teratur selama 30 menit sebanyak 5 kali dalam seminggu. (d).Diet sehat dan seimbang, yaitu dengan mengonsumsi 3 – 5 porsi buah dan sayuran setiap hari, serta mengurangi asupan gula, garam, dan lemak jenuh. (e). Kelola stres. Kementerian Kesehatan RI, kata dr.Lily, mengadakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam rangka memperingati Hari Diabetes Sedunia. Kegiatan yang dilakukan meliputi: 1) Melaksanakan sosialisasi dan diseminasi informasi tentang diabetes melalui berbagai media cetak, elektronik, dan media lainnya serta pemasangan spanduk, umbul-umbul berisi pesan tentang diabetes; 2) Membuat surat edaran kepada seluruh Dinas Kesehatan Provinsi di Indonesia terkait Hari Diabetes Sedunia untuk melakukan promosi kesehatan, deteksi dini, dan kerjasama dengan LSM untuk melakukan kegiatan yang melibatkan masyarakat. Selain itu, Kementerian Kesehatan juga memberikan himbauan kepada pemerintah, swasta maupun masyarakat untuk dapat berpartisipasi dan mendukung upaya pencegahan dan pengendalian diabetes. Kementerian Kesehatan juga mendorong kementerian dan lintas sektor terkait lainnya untuk meningkatkan kerjasama dalam mengatasi masalah kesehatan sehingga semua kebijakan yang ada berpihak pada kesehatan. Prof. DR. dr. Agung Pranoto, Sp.PD-KEMD selaku Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) memaparkan, salah satu penyebab seseorang terkena diabetes adalah karena penyakit ini diturunkan melalui genetis. Diabetes adalah kelainan metabolik dimana terjadi peningkatan glukosa atau gula darah yang jumlahnya menjadi di atas standar. Untuk diabetes yang disebabkan secara keturunan, ada dua macam penyebabnya. Pertama, diabetes genetik yang disebabkan karena adanya kecacatan materi gen dalam inti sel sehingga penyakit tersebut muncul. Kedua, karena adanya kecacatan materi gen pada sel telur ibu sehingga bisa menurun pada anaknya, baik anak laki-laki maupun anak perempuan.Namun, jika penyebabnya karena kerusakan inti sel, maka baik anak perempuan maupun laki-laki berisiko terkena diabetes seperti orang tuanya. Jika tidak dicegah, angka penyandang diabetes diperkirakan akan meningkat menjadi 16,2 juta pada tahun 2040. Saat ini, diabetes merupakan penyebab kematian terbesar nomor 3 di Indonesia. Prof. DR. dr. Achmad Rudijanto, Sp.PD-KEMD selaku Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), mengatakan, penderita diabetes memiliki kadar glukosa dengan jumlah di atas normal di dalam darahnya. Itu sebabnya, penderita diabetes diminta memerhatikan asupan makanan mereka. Dari sisi pantangan, kata dia, tak ada pantangan makanan, yang penting diukur dengan baik apa yang masuk ke dalam tubuh. Ia juga menyoroti kebiasaan warga Indonesia yang terbiasa mengkonsumsi makanan memgandung karbohidrat, salah satu sumber meningkatnya glukosa dalam darah. Karena karbohidrat adalah kandungan makanan yang perlu dihitung secara teliti karena ini adalah bahan paling tepat untuk meningkatkan glukosa dalam darah. Pasalnya kata dia, makanan Indonesia kebanyakan didominasi oleh karbohirat seperti nasi, kentang, mie, hingga jajanan pasar. Jadi Gula tak hanya berasa dari permen atau gula pasir saja, tetapi juga makanan berkarbohidrat yang merupakan sumber gula. Achmad Rudijanto menyarankan untuk menghindari konsumsi gula murni yang dapat meningkatkan kadar glukosa dalam darah dengan cepat. Sebaiknya gunakan gula pengganti atau pemanis dalam kadar yang normal, yaitu dua bungkus kecil dalam sehari. Lily Sulistyowati, menambahkan, ragam kuliner Indonesia yang luar biasa banyaknya membuat kita sulit menahan diri. Hidangan apapun ingin dicoba dan dinikmati. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi upaya menekan kasus diabetes melitus (DM) di Indonesia. Menurutnya, mencicipi menu-menu kekayaan kuliner Nusantara seperti gudeg, rawon, soto dan lainnya bukan tidak boleh. Tetapi hendaknya tidak dijadikan menu harian. “Ya perilaku hidup yang tidak sehat, seperti kurang buah dan sayur, kurang aktivitas fisik menjadi pemicu terbesar timbulnya DM,”ujarnya.(Kormenjurnalis@gmail.com)

folder_opentags

Penulis

Kormen Barus

Penulis bisnistoday.com

Artikel Lain