(bisnistoday)-Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan problema kesehatan utama di dunia saat ini. Data terakhir dari Badan Kesehatan Dunia PBB (World Health Organization/ WHO), PJK dan serangan jantung mendadak masih menjadi pembunuh manusia nomor satu di negara maju dan berkembang dengan menyumbang 60 persen dari seluruh kematian.

Guru Besar Angiologi Vaskuler FK Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) Prof.Dr.Med.dr.Frans Santosa, dalam dua bukunya yakni “State of the art Treatment of Coronary Heart Disease” dan “State of the art Treatment of Hearth Failure”. yang baru diluncurkan di Jakarta, 8 Desember 2016, menilai menilai saat ini ada yang kurang tepat pada tata laksana pengobatan PJK di Indonesia.

“Banyak dokter yang terlalu cepat memilih melakukan tindakan pemasangan ring stent atau bahkan langsung operasi by pass saat menangani pasien jantung yang stabil atau belum akut,” ujar dr.Frans.

Lebih lanjut dr.Frans mengatakan, Padahal berbagai teknologi dan inovasi kedokteran terus ditemukan sebagai upaya mengobati penyakit mematikan ini. Temuan terbaru, yakni penggunaan terapi konservatif pada pasien PJK yang masih stabil.

dr-fransTerapi konservatif sendiri adalah terapi pengobatan agresif dengan obat-obatan yang direkomendasikan dokter pada pasien dengan penyakit jantung koroner yang masih stabil.

Dengan terapi ini, penderita penyakit jantung koroner yang belum masuk kategori gawat tidak perlu menjalani tindakan lainnya, baik pemeriksaan kateterisasi (balon), pemasangan ring (stent), pompa jantung, maupun operasi by pass.

Direktur Jakarta Vascular Centre ini menambahkan, sebenarnya ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan sebelum melakukan tindakan pemasangan stent atau bahkan langsung operasi by pass. Analoginya sama dengan pasien baru datang. Jangan baru direkam langsung disimpulkan harus kateter atau pakai ring. Ini terlalu cepat.

“Mohon maaf  banyak orang di Indonesia belum memiliki polis asuransi. Sementara penghasilannya juga nggak tinggi. Akibatnya kalau berobat mahal. Jadi kasian mereka kalau mendapatkan terapi yang salah namun berbiaya mahal,” ujar lelaki kelahiran Surabaya 5 Juni 1951 ini.

Selain berbiaya mahal, Direktur Klinik Kardiologi & Angiologi Waringin Merdeka ini menjelaskan penanganan pasien PJK pada stadium awal yang tidak tepat, juga berpotensi dapat menimbulkan kejadian komplikasi, yaitu robeknya pembuluh darah koroner sehingga terjadi penggumpalan darah dan akhirnya meningkatkan risiko kematian.

Berbeda halnya dengan pasien PJK yang masuk kategori nggak stabil atau sudah akut. Kondisinya memang harus diperiksa dengan betul. Tentu juga harus sesuai dengan tingkatan. Untuk pasien PJK yang nggak stabil yang paling bagus adalah kateter jantung. Itu yang bagus karena gold standar. Tetapi yang stabil nggak perlu periksa kateter apalagi pasang ring. Nggak usah. Karena dia diobati saja cukup.

Frans berharap terbitnya dua buku serialnya tentang penyakit jantung bisa menjadi referensi menarik bagi dokter jantung di Indonesia. Sebab semua informasi yang dimuat berdasarkan penelitian ilmiah yang sudah dibuktikan (evidence based).

Turut hadir dalam acara peluncuran buku tersebut Dr. Mariono Reksoprodjo (Dekan FK UPN Jakarta), Prof.Ir.Eddy S.Siradj (Rektor UPN Jakarta), Prof.Dr.Med.dr.Puruhito (Guru besar dan Mantan Rektor Universitas Airlangga), Prof.dr.H.Ali Sulaiman (Guru Besar FK-UI), Prof Dr.dr. Agus Purwadianto (Ketua IDI), Prof.Dr. Fahmi Idris (Dirut BJPS Kesehatan), Prof.Ir.Purnomo Yusgiantoro (Mantan Menteri ESDM dan Menteri Pertahanan), Jenderal (Pur) TNI Moeldoko (Mantan Panglima TNI) dan lainnya. Dewi