(infomoneter)-Ekonom senior dan Rektor Universitas Prasetiya Mulya, Djisman S. Simandjuntak, mengatakan, Salah satu tantangan besar industri pariwisata Indonesia ke depan adalah mengubah gambaran wisata Indonesia sebagai wisata kekayaan budaya. Bukan hanya wisata sensual dengan keindahan alamnya.

“Kita membutuhkan studi ilmiah tentang event di industri pariwisata Indonesia, yang punya kekayaan budaya luar biasa ini. Kita harus bisa mentransformasi Indonesia menjadi gambaran destinasi budaya kelas dunia. Bali misalnya, harus makin bisa menjadi tempat-tempat pertemuan perusahaan, temu budaya dan seni, pertemuan komunitas ilmiah, dan lain-lain, daripada hanya terus menjadi tempat tujuan para turis yang ingin menikmati pantai”, kata Djisman saat membuka seminar, talk show dan pameran “Eventnesia 2017 Prasetiya Mulya”, bertajuk “Culturally Enriched Leisure and Tourism” di kampus Prasetiya Mulya BSD, Serpong, 18 Maret 2017.

Dalam Eventnesia besutan himpunan mahasiswa prodi S1 Event Prasetiya Mulya itu dipertemukan para pemangku kepentingan dari berbagai sektor industri pariwisata, khususnya event. Acara dihadiri para pembicara seminar antara lain presiden APIEM (Asia Pasific Institute for Event Management) David Hint, wakil presiden eksekutif untuk layanan retail dan penumpang PT. Angkasa Pura Solusi, Sigit Purwa Septiadi, manajer umum bagian event Harian Kompas, Lukminto Wibowo, dan pendiri Jember Fashion Carnaval, Dynand Fariz.

Prodi S1 Pertama di Indonesia

Pengajar studi Manajemen Event Prasetiya Mulya, Peni Zulandari, mengungkapkan dalam Eventnesia 2017 juga ada ruang-ruang yang mempertemukan para pelaku profesional event dalam workshop yang pesertanya bukan hanya praktisi yang berkepentingan menjalin mitra dengan para pelaku berbagai event, namun juga para calon mahasiswa program studi event, para mahasiswa sekolah tinggi pariwisata, orang tua dan calon mahasiswa yang berminat belajar tentang manajemen event.

“Intinya kita di sini mempertemukan semua stakeholder yang terlibat dalam event. Ada misalnya professional EO berbagai event skala nasional. Jadi para pelaku industri saling bertemu, dipertemukan oleh mahasiswa. Juga dipertemukan dengan guru-guru SMA, yang selama ini kita tahu makin kreatif menyelenggarakan Pensi (pentas seni)-nya. Sehingga kita bisa membina Pensi mereka untuk jadi event yang makin baik”, jelas Peni yang menyebut prodi S1 Prasetiya Mulya sebagai yang pertama di Indonesia, mengingat prodi ini di Indonesia umumnya terbatas hanya sampai level Diploma 3 atau D4 bukan program penuh strata satu.

Program diploma 3 dan 4 di bidang ini biasanya mendalami studi event seputar MICE (meetings, incentives, conferences and exhibitions). Sedang program S1 mendalami tak hanya topik MICE, tetapi juga special event. “Misalnya festival kedaerahan, kegiatan terkait dengan religi (perayaan Natal, Tahun Baru, Idul Fitri), atau yang berkaitan dengan korporasi seperti launching produk, atau perayaan individu seperti weeding, ulang tahun dan lain-lain”, jelas Peni.

Lulusan prodi ini diharapkan kembali ke daerahnya masing-masing dan membangun daerah dengan mengembangkan banyak event yang dapat mengangkat brand daerah dan meningkatkan perekonomian wilayah setempat. “Apa yang dilakukan pak Azwar Anas dengan Banyuwangi yang perekenomiannya meningkat karena konsep event full cities¬¬-nya itu memberi inspirasi. Ada juga yang dilakukan Dinand Fariz dengan Jember Fashion Carnaval-nya yang mengangkat nama Jember di tingkat internasional. Prodi ini diarahkan ke harapan yang sama untuk daerah-daerah potensial di Indonesia”, tambah Peni.

Standar Internasional

Dalam sesi seminar, David Hint mewakili APIEM memberikan pengakuan akreditasi tertinggi (top level) kepada prodi S1 Event Prasetiya Mulya yang telah memenuhi seluruh standar pendidikan manajemen event tingkat internasional. “Prodi Event Prasetiya Mulya merupakan prodi pionir untuk tingkat pendidikan S1 di Indonesia dan saat ini satu-satunya program S1 yang memperoleh akreditasi dengan nilai tertinggi karena kurikulum pendidikan dan segala yang mendukung mahasiswanya untuk menjalani program ini”, jelas David.

Pendidikan tinggi bidang pariwisata lain di Indonesia yang memperoleh akreditasi dari APIEM adalah Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali dan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung. Demikian terungkap dalam laman resmi APIEM (http://theapiem.com/apiem-centres-excellence/) baru-baru ini.  (kormen/HRM).