bisnistoday– Pelaksanaan Penawaran Umum Perdana Saham (PUPS) bagi setiap perusahaan adalah sangat penting. Itu pertanda perusahaan tersebut berubah statusnya menjadi perusahaan publik, alias go public.

“Jika ada perusahaan yang menghindari go pubic, itu artinya pemilik atau pengelola perusahaan tersebut tidak ingin menghadapi masa depan yang lebih baik,” ujar Tito Sulistio, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Tito mengungkapkan hal tersebut dalam sebuah dialog mengenai Perpu No 1 Tahun 2017 tentang Akses Informasi Keuangan untuk kepentingan perpajakan bagi emiten, sekuritas, perbankan dan perusahaan asing. Dialog itu dilakukan BEI bersama Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia di Gedung BEI, Jakarta Selatan, pada Jumat (06/10/2017).

Tito mengemukakan, setiap perusahaan di Indonesia untuk arah pengembangan bisnis kedepan hendaknya memiliki orientasi go public. Karena itu, perusahaan-perusahaan yang merupakan anggota Kadin diharapkan nantinya akan melakukan go public.

“Alasan yang sering menghalangi perusahaan untuk go public adalah karena kekhawatiran terhadap modal yang besar, minder karena merasa perusahaan masih tergolong perusahaan kecil, hingga khawatir terhadap redenominasi di masa depan,” papar Tito.

Tito memberikan contoh bagaimana Kioson, sebuah perusahaan start-up, yang hanya beraset Rp35 miliar tetapi berhasil melakukan go public dan meraih tambahan dana hingga Rp45 miliar. Kioson adalah perusahaan ke-24 yang menjadi emiten BEI pada tahun ini.

Hingga kini, demikian Tito, Kioson masih merugi. Tetapi yang menarik, investor melihat potensi perusahaan tersebut kedepan sehingga PUPS-nya mengalami oversubscribed hingga 13 kali dan sahamnya langsung naik 50% ketika ditransaksikan di lantai BEI.

Karena itu, Tito mendorong agar perusahaan-perusahaan yang menjadi anggota Kadin nantinya mau melakukan go public.

“Kami akan menyediakan karpet merah untuk perusahaan-perusahaan anggota kadin yang mau melakukan Penawaran Umum Perdana Saham di Bursa Efek Indonesia,” pungkas Tito. (Abraham Sihombing)