Bisnistoday- Tidak dipungkiri jika banyak masyarakat Indonesia belum begitu paham mengenai Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK). Tak sedikit pula justru berbuntut pertikaian hingga ke ranah hukum. Investasi dengan iming-iming profit besar pun masih terjadi. Hal inilah yang menyebabkan PBK negatif di mata publik.

Bachrul Chairi, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), ditemui saat pelatihan wartawan bersama Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) di Malang, 6 Oktober 2017, mengatakan PBK dalam suatu negara berperan sebagai diversifikasi risiko bagi para investor.

Masalah yang sangat besar bagi PBK adalah masalah pemahaman publik, baik masyarakat maupun pemerintah.

“Pemahaman publik tentang bursa berjangka masih kurang dan perspektif negatif masih terus ada. Regulasi juga harus ditegakkan agar bisa dipasarkan mengikuti kaidah ekonomi,” ujarnya.

Bachrul tidak menampik jika masyarakat hanya mengenal saham dan obligasi. Jika saham mandek, tidak ada alternatif lain bagi para investor. Pentingnya bursa berjangka untuk berkembang adalah agar para investor memiliki diversifikasi risiko.
Lanjut Bachrul, untuk itu PBK disini disebut juga berperan sebagai hedging atau pagar dan pengaman ketika investasi di bursa yang lain bermasalah.

“Indonesia memang masih tahap infant. Padahal Indonesia menguasai produk dunia, tetapi untuk harga masih berpatokan pada referensi harga luar negeri. Rugi jika bursanya tidak dikendalikan dengan baik dan malah mengikuti referensi harga luar negeri,” ungkapnya.

Ditemui di tempat yang sama, Direktur Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), Stephanus Paulus Lumintang, optimis kedepan BBJ dan KBI (Kriling Berjangka Indonesia akan membentuk pasar yang baik.

“Meski Indonesia memang masih infant dalam Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK), namun visi ke depan kita baik. Saya yakin industri ini akan memiliki masa depan yang bagus,” ujar Paulus.

Ia mengakui menyikapi industri PBK memang tidak secepat yang dibayangkan. Namun perubahan demi perubahan selalu dilakukan untuk perbaikan atas apa yang akan dicapai.

“Harapannya selalu agar bisa sepadan dengan bursa lain yang bisa dijadikan patokan referensi harga. Kalaupun belum, ya tetap menjadi sebuah hedging (pagar atau pengaman) untuk pelaku dan investor lain dalam investasi,” lanjutnya.

Dalam hal ini Paulus juga berharap peran media massa dalam membentuk persepsi publik, agar masyarakat bersikap lebih pruden dan preventif saat bertemu dengan pelaku investasi bodong.

“Dalam jangka menengah/panjang, kegiatan edukasi masyarakat adalah sarana yang paling efektif untuk mengatasi praktek investasi bodong. Masyarakat harus dibekali dengan pengetahuan yang memadai perihal best practices dalam industri PBK,” ujarnya. Dewi