Bisnistoday- Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah, Indonesia adalah negara penghasil komoditi terbesar di dunia. Indonesia sebagai negara penghasil lima komoditas penting, yang kesemuanya masuk dalam urutan pertama sampai lima besar dunia, antara lain; CPO, karet, kopi, kakao, timah dan batubara.

Sebagai bangsa kaya, Indonesia berpeluang sebagai negara penentu harga komoditi yang dibutuhkan dunia dan sebagai sumber referensi harga komoditi internasional. Akan tetapi, sampai saat ini, referensi harga komoditi-komoditi tersebut sebagian besar masih berasal dan ditentukan oleh negara-negara lain yang sama sekali bukan negara penghasil.

Adalah Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Futures Exchange (JFX), bursa berjangka pertama di Indonesia, terus menorehkan kinerja positifnya. Pertama kali melakukan perdagangan tahun 2000, BBJ adalah menyediakan fasilitas bagi para anggotanya untuk bertransaksi kontrak berjangka berdasarkan harga yang ditentukan dalam sistem perdagangan elektronis.

Direktur Utama Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) Stephanus Paulus Lumintang ditemui dalam diskusi tentang industri perdagangan berjangka komoditas bersama awak media di Malang, Jawa Timur, 6/10/17, mengatakan BBJ layaknya “gadis seksi” dari desa yang berparas cantik dan kini menjadi rebutan para lelaki.

“Meski kini baru berusia 18 tahun tapi saya optimis BBJ akan terus tumbuh semakin dewasa menapaki industri ini. Saat ini banyak pelaku usaha baik dari dalam negeri maupun asing mulai melirik potensi BBJ,” ujar Paulus.

Lanjutnya, minat dari pelaku usaha asing menunjukkan bahwa perdagangan berjangka komoditas di Indonesia memiliki potensi untuk berkembang.

Pelaku usaha asing itu di antara-nya berasal dari Uni Emirat Arab (UEA), Republik Rakyat Tiongkok (RRT), juga Australia. Paulus menambahkan pihaknya saat ini tengah melakukan pembenahan meskipun ada perlambatan dan kelesuan ekonomi baik secara global maupun nasional.

“Kami optimistis bisa menjadikan BBJ lebih baik, di kalangan negara anggota ASEAN maupun dunia,” kata Paulus.

Direktur Utama Kliring Berjangka Indonesia Fajar Wibhiyadi mengatakan peluang untuk berkembangnya industri perdagangan berjangka komoditas masih terbuka dan sangat menjanjikan. “Potensi sangat besar, tetapi pemahaman atas transaksi ini sangat minim,” kata Fajar.

Kondisi saat ini, masyarakat masih kurang memahami seluk beluk risiko dan potensi investasi di industri perdagangan berjangka komoditas. Banyaknya praktik yang menjanjikan profit besar bebas risiko yang kecenderungannya merupakan investasi bodong, berdampak negatif terhadap kepercayaan publik.

Oleh karena itu, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Bachrul Chairi mengatakan pihaknya terus berupaya menyosialisasikan dan mengedukasi mengenai perdagangan berjangka komoditas.

“Paling penting ialah edukasi. Bisa dengan pola bersama asosiasi, bergerak melakukan pendekatan, terutama kepada masyarakat dan universitas untuk memberikan penjelasan,” ujar Bachrul.

Paulus pun tidak menampik jika industri PBK memang tidak secepat yang dibayangkan. Namun perubahan demi perubahan selalu dilakukan untuk perbaikan atas apa yang akan dicapai.

“Harapannya kedepan BBJ bisa sepadan dengan bursa lain yang bisa dijadikan patokan referensi harga. Kalaupun belum, ya tetap menjadi sebuah hedging (pagar atau pengaman) untuk pelaku dan investor lain dalam investasi,” tutupnya. Dewi