Articles worth reading

Eksbis

Menuju Lima Besar Terminal Kendaraan di Dunia Komisaris dan Direksi PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (foto Rino)

Menuju Lima Besar Terminal Kendaraan di Dunia

person access_time09-07-2018

(Bisnistoday.com)-PT Indonesia Kendaraan Terminal, Tbk atau IPCC  yang saat ini mengelola lahan seluas 31 hektar dengan kapasitas 700.000 unit kendaraan per tahun, menargetkan menjadi terminal kendaraan kelima terbesar di dunia.

Presiden Direktur PT Indonesia Kendaraan Terminal, Chiefy Adi Kusmargono, saat pencatatan saham perusahaan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (9/7), mengatakan, pihaknya  akan menambah lahan menjadi 89,5 hektare dengan kapasitas 2,1 juta kendaraan. "Lima tahun lagi kami targetkan menjadi 5 besar Terminal Kendaraan di dunia," ujarnya.

Sementara itu, Deputi Rekstrukturisasi dan Pengembangan Usaha BUMN Aloysius Kiik Ro, mengatakan Kementerian BUMN terus mendorong, perusahaan BUMN mencari sumber lain pendanaan. Tidak hanya mengandalkan APBN. Misalnya melalui pasar modal.

"Dengan menjadi perusahaan Tbk. pengelolaan perusahaan jadi lebih transparan, kompeten dan sesuai GCG," pungkasnya.

IPCC merupakan  perusahaan  bidang  bongkar  muat  kendaraan  dari  dan  ke  kapal  pertama  di Indonesia yang melantai di bursa dan sebagai perusahaan tercatat ke-25 pada tahun 2018. 

Adapun pelayanan jasanya meliputi Stevedoring, Cargodoring, Receiving, dan Delivery. Selain itu juga melayani pelayanan jasa lainnya, yaitu Vehicle Processing Center (VPC), Equipment Processing Center (EPC) dan Port Stock.

Chiefy Adi Kusmargono, di sela acara pencatatan saham IPCC di Gerung BEI, mengatakan, IPCC  secara  resmi  telah  menetapkan  harga  Penawaran  Umum  Perdana  Saham  (Initial Public  Offering/IPO)  sebesar  Rp.  1.640,-  per  lembar  saham,  dimana  jumlah  saham  yang ditawarkan mencapai 509.147.700 lembar saham dengan free float 28% dari jumlah saham. 

Dengan nilai kapitalisasi saham sebesar Rp. 2,98 triliun, IPCC akan menerima dana proceeds sebesar Rp 835 miliar. Dana dari proceeds ini akan digunakan sebesar 50% untuk belanja modal dalam rangka pengembangan usaha yang meliputi pengembangan terminal, perluasan lahan, mewujudkan IPCC Incorporated, penambahan kapasitas dan fasilitas serta peralatan pendukung.

Sebesar 25% untuk perpanjangan kontrak sewa lahan jangka panjang. Sisanya 25% untuk modal kerja Perseroan guna mendukung kegiatan operasional.

Untuk lebih memberikan kepercayaan kepada investor, IPCC yang juga dikenal sebagai IPC Car Terminal menunjuk dua penjamin pelaksana emisi efek (Joint Lead Underwriters/JLU), yaitu PT Bahana Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas, serta mempercayakan kepada PT RHB Sekuritas Indonesia untuk bertindak sebagai agen penjual internasional (international selling agent).  

IPCC menandai Penawaran Publik Perdana ini sebagai tonggak terpenting IPCC dari sejarah yang pada awalnya beroperasi sebagai sebuah unit (Strategic Business  Units/SBU)  dari  Induk Perusahaan IPC  untuk  terus  menyediakan pelayanan  operasi  pelabuhan  terbaik  dan  layanan  yang  lebih  profesional  bagi  semua pemangku kepentingan mulai tahun 2007, selanjutnya menjadi anak perusahaan IPC sejak 1 Desember 2012. 

Langkah ini sebagai tangga IPCC untuk mewujudkan stand alone company yang menjadi inspirasi, benchmarked/best practices company ditingkat nasional, regional dan internasional.  Menurut Chiefy, ketika IPCC berubah menjadi perusahaan publik,  ini akan memungkinkan untuk melakukan hal yang lebih besar untuk pencapaian lebih tinggi sesuai GCG dari apa yang  telah  dilakukan  selama  ini. 

IPCC  memiliki  profil  keuangan  yang  sehat  dan  tim Manajemen  profesional  yang  menjamin  optimisme  untuk  terus  memperluas  jaringan  dan   menciptakan  lebih  banyak  potensi  dalam  membangun  kolaborasi  kelas  dunia  dengan menjaring pasar domestic dan internasional.   

Menyadari  IPCC  memiliki  pasar  yang  akan  berkembang  pesat,  korporasi  berkomitmen menjaga  basis  klien  tetap  solid,  penguasaan  lahan  yang  terjamin  dan  ekspansi  yang terencana dengan baik, serta meningkatkan kompetensi, Tim manajemen yang focus pada pelayanan pelanggan, berintegritas, serta bangga terhadap perusahaan dan budayanya.

“Ini perlu dijaga mengingat Indonesia adalah negara dengan penjualan mobil terbesar ke-17 di dunia  dan  nomor  satu di Asean.  Secara  produksi,  Indonesia terbesar ke-18  di dunia  dan nomor  dua  di  Asean,”ujar Chiefy.

Adapun  pertumbuhan  produksi  mobil  di  Indonesia  dengan  CAGR mencapai 11,4% selama 10 tahun periode 2007-2017.     -- selesai --   Tentang IPCC:   IPCC  merupakan  anak  usaha  PT  Pelabuhan  Indonesia  II  (Persero)    atau  Indonesia  Port Corporation (IPC). IPCC memberikan jasa pelayanan terminal kendaraan. “Jasa pelayanan meliputi Stevedoring, Cargodoring, Receiving, dan Delivery,” tutur Chiefy. 

Selain  itu,  demikian  Chiefy,  IPCC  juga  melayani  pelayanan  jasa  lainnya,  yaitu  Vehicle Processing Center (VPC), Equipment Processing Center (EPC), Port Stock dan Transhipment Roro Services.   IPCC tidak hanya menyediakan jasa terminal untuk mobil, tapi juga untuk alat berat, truk, bus, dan suku cadang.  IPCC  memiliki  beberapa  keunggulan,  di  antaranya  satu-satunya  perusahaan  pengelola terminal komersial yang memberikan jasa pelayanan terminal kendaraan di negara terpadat ke-4 di dunia, memiliki 100% captive market untuk ekspor-impor kendaraan, dan margin bisnis menarik. 

 IPCC mengelola lahan seluas 31 hektar dengan kapasitas 700.000 unit kendaraan per tahun. Sesuai rencana, pada 2022, IPCC menargetkan lahan seluas 89,5 hektar dengan kapasitas 2,1 juta kendaraan. Dengan demikian, IPCC diproyeksikan menjadi pengelola terminal mobil terbesar ke-5 di dunia.   Dari segi kinerja keuangan IPCC juga menunjukkan hal yang menggembirakan.

Pada 2017, misalnya, IPCC membukukan pendapatan Rp. 422,1 miliar, naik 34,3% dibandingkan 2016 sebesar Rp. 314,3 miliar. EBITDA IPCC bertambah 31,5% menjadi Rp. 175,4 miliar dari Rp. 133,4 miliar. Laba kotor naik 26,8% menjadi Rp. 208,6 miliar dari Rp. 164,5 miliar, dan laba bersih IPCC tumbuh 32,2% dari Rp. 98,4 miliar menjadi Rp. 130,1 miliar pada 2017.  

Sementara  total  aset  IPCC  per  Desember  2017  mencapai  Rp.  336,3  miliar,  naik  26,95% dibandingkan 2016 sebesar Rp. 264,9 miliar. Liabilitas IPCC naik 25% menjadi Rp. 99,2 miliar dari Rp. 79,3 miliar, dan ekuitas tumbuh 27,7% menjadi Rp. 237 miliar dari Rp. 185,6 miliar dan current ratio sebesar 3,3 kali, naik dari 2,4 kali. “Dalam tiga tahun terakhir rata-rata ROA IPCC mencapai 35,4%, margin EBITDA 40,4%, ROE 50,6%, dan ekuitas terhadap aset rata-rata 69,8%,” pungkas Chiefy. (Kormen)

folder_opentags

Penulis

Tim Riset

Tim Riset

Artikel Lain