Articles worth reading

Sosok

Inilah Pemikiran Founder Jababeka SD Darmono dalam Buku Building A Ship While Sailing Diskusi buku Building A Ship While Sailing

Inilah Pemikiran Founder Jababeka SD Darmono dalam Buku Building A Ship While Sailing

person access_time05-08-2018

BISNISTODAY.COM-Pendiri PT Jababeka Tbk Setyono Djuandi Darmono dalam Diskusi buku Building A Ship While Sailing, yang  digelar di Cozyfield Gramedia, Pondok Indah Mall, Jakarta, Sabtu  (4/8/2018), menjelaskan pandangannya dalam buku Building A Ship While Sailing,  mengenai peran pengusaha untuk memberdayakan masyarakat dalam proses pembangunan bangsa. 

Building A Ship While Sailing, merupakan refleksi dan kontribusi dari pria yang dikenal denga SD Darmono itu dalam membantu pemerintah mewujudkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Buku ini menjabarkan visi SD Darmono untuk membangun negara sambil tetap bekerja untuk kemandirian diri sendiri. Judulnya terinspirasi oleh kata-kata Prof. Emil Salim-seorang ahli ekonomi, cendekiawan, pengajar, dan politisi Indonesia-bahwa "kita ini membangun negeri seperti membangun kapal sambil berlayar".

Pandangan SD Darmono mengenai berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia, menurutnya tidak hanya dalam pembangunan ekonomi. Pemikirannya juga menjangkau masalah budaya dan pendidikan, melebihi kapasitasnya sebagai seorang pengusaha.

Membaca judul buku ini, kesan yang muncul dari penulis itu dipengaruhi kenyataan bahwa kita tinggal di negara kepulauan. Maka dari itu, Darmono mengambil metafor bangsa ini bagaikan kapal besar yang tengah mengarungi samudera nan luas, sementara proyek membangun kapal besar itu belum jadi sebagaimana yang diinginkan oleh pendiri bangsa.

Diskusi buku ini dihadiri oleh oleh beberapa pengusaha, tokoh bisnis termasuk Prof.Dr. Komsruddin Hidayat  yang juga merupakan  penyunting buku.

Prof. Komaruddin Hidayat dalam kata pengantarnya menyebut buku ini merupakan refleksi tentang keindonesiaan yang bisa menjadi roadmap untuk menggapai Indonesia sejahtera karena diuraikan secara mendalam penuh makna. Alam pikiran pembacanya dibawa menuju rumah Indonesia yang hidup, terang, penuh peluang dan harapan.

Spirit ke-Indonesiaan yang dinyalakan dalam buku ini tidak hanya dipantik oleh romantisme kesejarahan masa lalu, namun juga bagaimana bangsa besar yang meraih kemerdekaan dengan berdarah-berdarah ini bangkit melanjutkan perjuangan. Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada untuk keluar dari jepitan persaingan global negara-negara penguasa ekonomi dunia.

Building a Ship While Saling  adalah buku kelima yang ditulis  oleh Setyono Djuandi Darmono. Beberapa buku S.D. Darmono  yang sudah diterbitkan antaralain Think Big, Start Mall, Move  Fast yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin, Bahasa Inggris, dan One City, One Factory.

Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya, dalam catatannya, memberikan komentar untuk buku Building a Ship While Saling. “Buku ini mengingatkan kita bahwa sesungguhnya Indonesia memiliki keunggulan wisata budaya yang amat kaya, baik dari sisi keindahan alam maupun keragaman serta keunikan budayanya. Jika ini semua kita kelola dan dikembangkan bersama, Indonesia akan menjadi magnet wisata dunia. Buku yang enak dibaca dan sangat inspiratif,”ujarnya.

Menteri Agraria dan Tata Ruang RI, juga mengomentari  buku Building a Ship While Saling, sebagai refleksi pemikiran yang kritis, inspiratif, dan konstruktif dari seorang pengusaha dan pencinta budaya tentang masa depan Indonesia. “Pak Darmono mengajak pemerintah, kalangan pengusaha, dan akademisi untuk memenuhi janji dan cinta kemerdekaan, yaitu mewudjudkan kesejahteraan rakyat. Semoga buku ini menginspirasi kalangan pengusaha dan pembuat kebijakan publik,”ujarnya.

 Founder Lippo Group, Mochtar Riady, mengatakan, sebagaimana tercermin dalam buku ini, dalam mengendalikan bisnisnya, SD Darmono sangat menjunjung tinggi nilai nilai luhur keagamaan, seperti kejujuran, cinta keluarga, cinta negara, kemanusiaan, dan ujungnya adalah bagaimana turut menyejahterakan rakyat sebagai realisasi syukur pada Tuhan. “Sebuah buku yang mesti dibaca oleh para pengusaha Indonesia,”ujarnya.

SD Darmono mengatakan, Setelah sukses dalam peluncuran bukunya bertemakan Building a Ship While Sailing, atau membangun kapal sembari berlayar, dirinya juga akan meluncurkan seri buku terbaru berjudul Human Process Factory atau pabrik proses manusia, dengan artian Indonesia memiliki potensi yang besar yang perlu digarap bersama sama dengan dunia luar.

“Melalui buku selanjutnya, saya merasa perlu menceritakan ke dunia luar bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar dengan sumber daya alamnya yang luar biasa, namun keterbatasan anggaran, ujarnya.

Ia mengatakan, Indonesia harus memiliki konsep seperti pabrik yang memproses manusia, yaitu yang miskin jadi kaya, dan yang bodoh menjadi pandai, dan itulah yang sering disebut bonus demografi. Dalam membangun ekonomi baru perlu dilakukan pemerataan. Dari 17 ribu pulau hanya di pulau Jawa semua konsenterasinya, semua berkumpul di pulau Jawa. Karena itu dibutuhkan investor asing yang membawa dana, serta teknologi. Jangan sampai pengertian Nation menjadi ekslusif sehingga menjadi hambatan dalam membangun kesejahteraan bangsa, papar dia.

Darmono menambahkan, yang memegang peraturan adalah pemerintah Indonesia, yang megang senjata TNI, hukum ada. Kenapa mesti takut? Kalau di jaman Belanda kita lemah gak punya apa-apa kita takut untuk dimasuki orang asing. Maka kita anti asing untuk mengusir Belanda, tapi sekarang kita tidak boleh anti asing lagi karena kita sudah negara besar. “Kita harus menolong orang lain yang susah.Contohnya Morotai yang 2.500 kilometer dari Jakarta, daripada kosong,”ujarnya.

Menurutnya pulau-pulau tersebut dapat dibikin seperti Singapura, biar dikelola sama Taiwan atau Jepang agar dapat menjadi Singapurnya Indonesia tapi milik Indonesia. Seperti konsep shopping mall, mal ini punya siapa tanahnya kan punya Indonesia dan tidak mungkin dibawa kemana-mana. Biar orang asing yang mengelola tapi kan bayar pajak, menciptakan lapangan pekerjaan dan tidak mungkin tanahnya di bawa, jelasnya.

Hal senada diutarakan Cendikiawan Muslim, Komaruddin Hidayat menegaskan prinsip nation atau kewarganegaran tidak boleh menjadi ekslusif, sehingga tertutupnya kerjasama, perluasan dalam pemerataan ekonomi.

Nation atau nasionalisme itukan baru, ibaratnya kita punya anak lantas membuat rumah tangga baru yang akan mengatur diri mereka, masa iya harus mengikut orang tua terus. Jikalau Nation menjadi ekslusif tertutup kemungkinan kerjasamanya, dan perluasannya. Dengan begitu, nation menjadi seleb center yang jomplang ada yang maju dan ada yang miskin, ungkapnya

Ia menambahkan, Indonesia memiliki sejarah kebangkitan, sejarah pembentukkan. Sebabnya perlu manajemen skill yang bagus jangan sampai ribuan pulau-pulau Indonesia tercerai-berai.

SD Darmono lahir di Yogyakarta pada 26 April 1949, kemudian menikah dengan Rosylawati Dewi Darmono dan dikarunia tiga orang putra. Darmono merupakan tokoh pendiri dan Chairman Jababeka Group, perusahaan kawasan industry terbesar di Asia Tenggara, serta pendiri PT Banten West Java Tourism Development Corporation (TDC), Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung, PT Jababeka Morotai telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata dan Joint venture dengan Sembawang Corporation membangun kawasan Industri Kendal.

Selain dalam dunia bisnis, Darmono juga aktif dalam dunia sosial, seperti dalam Yayasan Tidar Heritage-bertujuan merevitalisasi dan mengembangkan komunitas di kawasan Candi Borobudur dan daerah sekitarnya, dan Yayasan Pendidikan Universitas Presiden-bergerak dalam dunia pendidikan untuk meningkatkan standar pendidikan internasional bagi generasi muda yang kurang mampu di tanah air. (Kormen)

folder_opentags

Penulis

Tim Riset

Tim Riset

Artikel Lain