Articles worth reading

Eksbis

Teken Kerjasama Tenaga Kerja dengan Jepang ,DGII Bantu Pemerintah Menetaskan Pengangguran Kerjasama Jepang

Teken Kerjasama Tenaga Kerja dengan Jepang ,DGII Bantu Pemerintah Menetaskan Pengangguran

person access_time23-01-2021

Bisnistoday.com. Jakarta-Duta Global Insan Indonesia (DGII) menyosialisasikan peluang kerja dan belajar di Jepang. Saat ini  DGII tengah merancang sebuah konsep yang akan mempersiapkan anak bangsa yang profesional, mandiri berwawasan kebangsaan yang siap berkarier di luar negeri. Targetnya adalah   anak-anak usia 18-30 tahun untuk bekerja di luar negeri.

“Kami  DGII dan UIA sudah menandatangani Nota Kesepahaman (MOU) dengan Liana Segrus, Co, Ltd – Jepang sebagai Registered Supporting Organization . Isi MOU tersebut adalah kerjasama untuk bidang akademik dan pengiriman tenaga kerja terdidik ke Jepang. Kami dapat menjamin, jika anak lulus dalam pendidikan bahasa jepang dan karakter, maka dapat langsung berangkat ke Jepang. Di awal DGII akan fokus kepada program Specified Skill Worker untuk pengirman tenaga perawat (caregiver),”ujar Direktur Utama DGII Endraswari Safitri, dalam Webinar Internasional dalam program bertajuk “Duta Bangsa Menuju Global,” di Jakarta, Kamis (21/1/2021),

Adapun subtemanya adalah “Memanfaatkan Bonus Demografi untuk Melejitkan Ekonomi Bangsa”.  Sebagai tuan rumah acara pada web Seminar Internasional kali ini, adalah Komisaris Utama Duta Global Insan Indonesia, Prof. DR. H. Dailami Firdaus yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Perguruan Tinggi As-Syafi’iyah.

Hadir dalam web seminar Internasional 3 narasumber dari Jepang yaitu Kazuya Yamanouchi  (President Liana Segrus, Co.Ltd), Shinji Kurata (HR Department Advisor, Hitowa Holding Co.Ltd), dan Yoichiro Higashi (GM Business Development Group The Nishiniphon Shimbun, Co.Ltd). Hadir juga narasumber Prof. Dr. Ir. Marsudi Wahyu Kisworo, IPU (Komisaris Independen PT Telkom Indonesia, TBK) beliau juga adalah Ketua Umum Aliansi Pendidikan Vokasional Seluruh Indonesia.

Acara dibuka oleh moderator, Indra Kuntadi dengan di awali oleh Doa bersama untuk kesehatan dan keselamatan rakyat Indonesia yang sedang mengalami banyak bencana dan juga Pandemi Global. Hadir juga sebagai translator Indonesia – Jepang adalah Dr. Dedi Sutedi, MA, M,Ed. (Ketua Forum Dosen Pendidikan Bahasa Jepang Indonesia). Beliau juga sebagai Direktur Pendidikan dan Pelatihan di DGII.

Rektor UIA, Dr. Masduki Ahmad, SH, MM, dalam opening speech, menyampaikan banyak terima kasih kepada seluruh narasumber baik di ruang panelis dan juga peserta di luar ruang Panelis baik dari Jepang dan Indonesia. Dalam pembukaannya menyampaikan bahwa program kerja dan belajar di Jepang ini sangat baik.

“Kami UIA siap mengawal para calon peserta untuk mempersiapkan tenaga kerja terdidik yang profesional, dan tentunya kami mengajak banyak pihak lain untuk bekerja sama dengan kami untuk menyukseskan program ini. Kami sebut program ini adalah sebagai solusi bangsa di tengah masa pandemi Covid 19, “ lanjut Masduki.

Pemateri pertama Pror. Dr. Ir. Marsudi Wahyu Kisworo, IPU (Komisaris Independen PT Telkom Indonesia, TBK). Dalam pemaparannya menjelaskan bahwa kedepannya Indonesia akan mengalami bonus demografi, dan jika tidak dipersiapkan dengan baik akan menjadi permasalahan di bidang ketenaga kerjaan. Ia juga menjelaskan pentingnya mendorong terwujudnya link and match “pernikahan” antara pendidikan vokasi dan dunia industri/dunia yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Aliansi Pendidikan Vokasional Seluruh Indonesia.

Sementara dari Pihak Jepang, yaitu Kazuya Yamanouchi- President Liana Segrus, Co, Ltd, mengatakan, bahwa di Jepang sedang mengalami kekurangan tenaga kerja (extreme labor shortage). Menyadari situasi tersebut parlemen Jepang mengeluarkan kebijakan ketenagakerjaan baru melalui amandemen Immigration Control and Refugee Recognition Act, dimana kebijakan baru ini mulai berlaku sejak April 2019 dan akan membuka peluang kerja seluas-luasnya kepada negara lain, imbuhnya. Perbedaan kebijakan parlemen Jepang dari yang sebelumnya adalah jika dulu hak dan kewajibannya pekerja asing dibedakan, sekarang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan pekerja Jepang sebagai gambaran dari sisi gaji UMR pekerja Jepang jika di rupiahkan berkisar 25 juta rupiah.

Sementara Shinji Kurata (HR Department Advisor, Hitowa Holding Co.Ltd), menyebutkan, kebutuhan tenaga kerja perawat di Jepang sangatlah besar. Perusahaan yang sudah berdiri sejak 2006, berlokasi di Ark Hills South Tower , Minato-ku, Tokyo ini memiliki jasa pelayanan yaitu pelayanan keperawatan untuk orang tua, anak-anak, individu dan juga jasa pelayanan makanan.

“Kami menghadapi problem dan situasi dimana generasi baby boomer akan masuk ke dalam penduduk usia tidak produktif di tahun 2025. Populasi ini akan meningkat 17,8% dari total populasi di Jepang. Sedangkan angkatan kerja produktif di Jepang akan mengalami penurunan, sehingga kebutuhan akan tenaga kerja di sektor keperawatan akan terus meningkat, “jelas Shinji.

Yoichiro Higashi (GM Business Development Group The Nishiniphon Shimbun, Co.Ltd)  menjelaskan The Nishinippon Newspaper adalah surat kabar yang telah berdiri sejak 1876. NNP ini adalah anggota dari Actis Group Foreign Employment Center (AGFEC) salah satu asosiasi ketenagakerjaan asing di Jepang yang terbesar di Kyushyu, imbuhnya.

Yoichiro melanjutkan bahwa AGFEC ini bertujuan untuk menawarkan lowongan pekerjaan yang tepat bagi pekerja asing di perusahaan-perusahaan yang berada di kota Kyushyu. The NNP juga bekerja sama dengan Liana Segrus, Co.Ltd (Registered Support Organization), dimana kami bukan hanya menawarkan lowongan pekerjaan di Jepang, tetapi kami juga menyupport para pekerja asing untuk hidup di Jepang.

Komisaris DGII lainnya, Prof. Ace Suryadi, M.Sc, Ph.D, yang juga Dewan Pakar dan Ketua Pusat Kajian Kebijakan Pendidikan Nasional PGRI mengatakan pada kesempatan lain mengatakan, dalam 10 tahun kedepan, Jepang membutuhkan sekitar 8-10 juta pekerja terdidik Indonesia untuk bekerja di berbagai jenis dan sektor industri. Dengan program Goes To Japan, Indonesia memerlukan investasi Rp. 15 triliun untuk membentuk 1 juta lulusan SMK-Sarjana yang siap kerja di Jepang, tetapi potensi devisa negara bisa mencapai sekitar Rp. 750 triliun; sebuah investasi yang tidak mudah dicapai oleh BUMN yang besar sekalipun.

Webinar tersebut berlangsung tepat pada pukul 09.00 dan berakhir pukul 12.30 WIB, yang dihadiri oleh lebih 500 peserta dari berbagai daerah, dan kebanyakan yang hadir adalah  dari sekolah-sekolah SMA/SMK, beberapa Univesitas dan Organisasi-organisasi di bidang pendidikan. Webinar Internasional ini menggunakan aplikasi zoom meeting dan live streaming di website duta.global dan di kanal Youtube.

folder_opentags

Penulis

Tim Riset

Tim Riset

Artikel Lain